Wednesday, October 24, 2012

Single, double, or Treble?

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah perdebatan mengenai penggunaan double hook untuk tujuan release. Salah satu pihak mengatakan, double hook pada hard lure (terutama hardfrog) akan lebih mudah dilepas apabila terjadi hook up, karena kemungkinannya adalah hook up pada bagian depan mulut ikan (tidak sampai tertelan). Berbeda dengan hard lure (hardfrog), double hook pada soft lure (softfrog) akan lebih sulit di-remove ketika hook up, karena posisi double hook point yang berada di bagian tengah lure. Well... this is interresting to discuss.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, sebaiknya kita mundur sedikit ke belakang untuk melihat fungsi dari masing-masing hook yang beredar di pasaran saat ini. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pakar kait mengait (terutama Captain Hook), berikut saya uraikan fungsi hook berdasarkan bahasa sehari-hari dan berdasarkan pengalaman pribadi.

1. Single Hook

(Courtesy of Taskers-Angling.co.uk)

Single Hook digunakan pada awalnya hanya untuk memancing ikan, udah itu aja. Caranya yaaa...dengan dibubuhi umpan. Single hook lebih umum digunakan untuk memancing dengan tehknik dasaran (bottom)

2. Double hook

(Courtesy of LeaderTec)

Manusia memang tidak pernah puas akan sesuatu, termasuk juga untuk urusan mata kail. Ga puas dengan single hook, dikembangkan lagi menjadi double hook. Kalo saya secara pribadi melihat, double hook diciptakan agar kapasitas hook up lebih maksimal. Double hook yang beredar saat ini lebih ditujukan buat top water lure yang biasa kelayapan di rawa, dengan kata lain, weedless.

3. Treble Hook

(Courtesy of OwnerHooks)

Ga puas dengan Double hook, manusia membuat treble hook agar kapasitas hook up lebih dan lebih dan lebih maksimal. Jenis hook seperti ini lebih cocok buat pelagic lure, seperti minnow dan crank.

Dari uraian singkat di atas, dapat kita bayangkan fungsi dan efek masing-masing jenis hook terhadap ikan. Pada saat terjadi hook up, kita tidak bisa memastikan dimana posisi hook terkait pada ikan, di bibir? di bagian tengah mulut? tertelan sampe perut? atau bahkan terkait pada ekor? Tak satupun angler di muka bumi ini bisa memastikan. Posisi hook terkait pada ikan juga mempengaruhi tehnik seorang pemancing melepas mata kail tersebut. Berikut Penampakannya.
(Courtesy of Dark Art Caster)
(Courtesy of Dark Art Caster)
(Courtesy of Dark Art Caster)
(Courtesy of Dark Art Caster)

Ini yang paling parah...heheheh.

(Courtesy of Alexandri Pangamiano)

Sekarang coba dibayangin, mana yang paling gampang dan mana yang paling susah untuk melepas hook dari beberapa foto di atas.

Apabila tujuan mancing hanya untuk catch, photo, records, dan release, mata kail yang paling direkomendasikan adalah mata kail tanpa ruit (barbless hook).
(Courtesy of Matsuo.com)

Saat ini, barbless hook lebih populer dikalangan pemancing luar negeri untuk tujuan CNR (Catch and Release). Tetapi apabila tujuannya untuk menambah menu di meja makan, cara apa saja digunakan, yang lebih sadis lagi adalah dengan racun (yang ini jelas lebih ganas, lebih mengerikan, dan lebih mematikan dari jenis hook apapun di dunia ini)

sebagai penutup, saya sampaikan pesan dari IGFA:

By properly landing and handling fish that are destined to be released, you’ll be doing your part to ensure that there will be more and bigger fish for the next generation of anglers.

Salam Strike!

Sunday, October 21, 2012

Pemanasan Global Ancam Keberlangsungan Spesies di Kalimantan

Sayangnya dengan kondisi semacam ini, Kemenhut sulit menerapkan kebijakan sebagai bentuk pencegahan perusakan lebih lanjut.

sungai,kalimantan,borneoHutan tropis di hutan Kalimantan. (thinkstockphoto)

Suhu yang menghangat di Samudera Hindia dan tingginya frekuensi El Nino menyebabkan kondisi kering di hutan Kalimantan. Ini menyebabkan beberapa spesies terancam keberlangsungan hidupnya karena sulit beradaptasi dengan panasnya Bumi.

Menurut hasil penelitian yang diterbitkan Journal of Geophysical Research-Biogeosciences, deforestasi menyebabkan hutan Kalimantan sudah terlalu rusak. Masa depan hutan ini sekarang mulai meredup.

"Bahkan spesies pohon yang bisa beradaptasi dengan cuaca kering masih berisiko punah," demikian pernyataan yang dirilis American Geophysical Union (AGU), Rabu (18/7). "Sebagian kecil spesies yang tidak bisa beradaptasi, berada dalam risiko terancam punah lebih besar."

Hasil ini tidaklah mengejutkan karena pernah terjadi di Hutan Amazon, Amerika Selatan. Ada spesies yang sulit beradaptasi dengan kekeringan dan kebakaran hutan.

Dikatakan Ismayadi Samsoedin dari Badan Litbang Kementerian Kehutanan, memang ada beberapa spesies yang kini masuk endangered di Kalimantan. "Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) yang dulu terkenal di Kalimantan Timur kini jadi berkurang populasinya karena perubahan iklim," katanya saat berbincang dengan National Geographic Indonesia, Kamis (19/7).

anggrek,bunga,budidayaAnggrek hitam (Coelogyne pandurata) (thinkstockphoto)

Anggrek ini hanya tumbuh di Pulau Kalimantan dan menjadi maskot Provinsi Kaltim. Meski masih bisa ditemukan di cagar alam Kersik Luway, jumlahnya dalam tahap yang memprihatinkan.

Kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri) juga masuk dalam spesies yang nyaris musnah. Kelangkaan kayu ini bahkan lebih terasa karena mengandung nilai ekonomi tinggi. "Buah-buahan liar seperti rambutan, durian, dan menteng hutan, juga terancam populasinya karena proses pengambilan yang kurang baik dari warga sekitar," tambah Ismayadi.

Sayangnya dengan kondisi semacam ini, Kemenhut sulit menerapkan kebijakan sebagai bentuk pencegahan perusakan lebih lanjut. Sejak otonomi daerah diterapkan sepuluh tahun lalu, Kemenhut hanya bisa memberi saran atau masukan.

Jika pun ada Keputusan Menteri (Kepmen), belum ada yang sifatnya nyata untuk konservasi tumbuhan yang belum dikenal. Malah, saat ini lebih subur pembangunan tambang batu bara, penebangan hutan untuk kelapa sawit, dan perkebunan karet.

"Hingga saat ini belum ada Kepmen yang bisa menjaga hutan Kalimantan dengan baik," ujar Ismayadi.
(Zika Zakiya)

Sumber berita: National Geographic

Thursday, October 18, 2012

Danau Sebatuk

Kalo di situs jejaring sosial punya tetangga sebelah, foto semacam ini pasti sudah banyak yang meng-klik "like". Ya wajar saja...selain bagus, spot memancing seperti ini sudah jarang ditemui di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Mari saya perkenalkan, inilah Danau Sebatuk. Danau ini terletak di dusun Molo (mohon diralat bila ada kesalahan), Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang. Endemik atau jenis ikan yang masih bisa ditemui di danau ini adalah arwana dan toman. Khusus jenis ikan arwana/arowana/siluk, jenis yang dapat ditemui adalah arwana silver. Masyarakat di sekitar danau ini masih menjaga populasi dan habitat ikan tersebut. Menurut penuturan masyarakat, bulan Oktober adalah musim panen anak-anak ikan arwana, dan proses penangkapan anak-anak ikan arwana hanya dilakukan pada malam hari. Nah...bagi para pemancing, diwajibkan untuk melakukan release atau melepas kembali ikan arwana yang berukuran besar atau lebih dari ukuran telapak tangan orang dewasa. Jangan tanya kenapa, just release!

Wednesday, October 17, 2012

Keeping the fire

Sabtu, 6 Oktober 2012, hari kedua ekspedisi mencari sample endemik Danau Separit. Membayangkan jumlah perkebunan sawit yang semakin lama semakin meluas di Borneo, khususnya di Bengkayang, tidak menutup kemungkinan dalam jangka waktu 5 - 10 tahun ke depan suasana seperti ini tidak akan dapat saya rasakan lagi. Well...10 tahun bukan waktu yang lama, kawan.

From Bengkayang with Love

Yes...this is my first time blogging, mungkin ada beberapa rekan-rekan blogger bergumam dalam hati "welcome to the club!", dan saya juga mengucapkan terima kasih atas sambutannya. Sebenarnya tidak pernah berfikir untuk nge-blog, tetapi karena saya memerlukan sebuah bejana untuk menumpahkan segala macam ide, uneg-uneg, dan pikiran, blog adalah bejana yang pas buat semua itu. So, here i am...Jerry Leman is in the club.