Monday, April 22, 2013

Mahseer a.k.a Semah

Beberapa waktu lalu, salah seorang rekan lama yang sekarang berdomisili di Putussibau-Kalimantan Barat menunjukkan foto hasil pancingannya. Foto tersebut sungguh luar biasa, seekor semah yang berbobot sekitar 12 kiloan. Tidak sedikit foto-foto hasil pancingannya yang sudah di-upload, dan banyak rekan-rekan sesama pemancing yang memberikan apresiasi, tidak sedikit pula yang berniat untuk berkunjung karena ingin merasakan sensasi strike dari ikan air jernih tersebut.

Terus terang saja, ada sedikit kecemburuan dalam hati saya setiap kali melihat hasil pancingannya. Putussibau memang terkenal kaya akan ikan air tawar, beragam jenis ikan air tawar dapat ditemui di daerah ini. Kalau boleh membandingkan, perairan air tawar di Kabupaten Bengkayang tidak berbeda dengan air tawar di Putussibau. Beberapa rekan pemancing di Bengkayang yang sudah "berumur" seringkali bercerita mengenai kondisi aliran sungai di Bengkayang pada era 70-80an. Sebagai salah satu contoh adalah Sungai Sebalo yang membelah kota Bengkayang. Sehari setelah hujan deras, debit air sungai sebalo spontan naik, kala itulah masing-masing pencari ikan akan mulai pasang strategi pengintaian terhadap ikan-ikan Semah yang sedang "migrasi" mencari tempat baru. menurut cerita, jumlah dan ukuran ikan semah yang "migrasi" tersebut tidak sedikit dan rata-rata berukuran monster. Ukuran monster yang saya maksud adalah 3 kilo ke atas, dan sudah dikonfirmasi oleh beberapa rekan pemancing lain. 3kg up bukanlah ukuran yang kecil, untuk menangkap ikan seukuran itu diperlukan sebuah tombak (serampang) atau jala yang kuat, kalau tidak, serampang tidak dapat menembus sisik ikan atau jala akan jebol oleh perlawanan ikan.

Ikan Paklin(?) atau ikan Semah merupakan endemik air tawar, lebih spesifik lagi ikan air tawar yang belum tercemar. Ikan Semah masuk dalam keluarga Cyprinidae. Tetapi penggunaan nama Mahseer hanya dibatasi pada genus Tor. Penyebaran ikan ini meliputi Malaysia, Indonesia, mulai dari Asia sampai ke Iran, termasuk semenanjung India. Nama lain ikan ini adalah tambra/tombro (Jawa), sapan (Kalimantan), ikan batak atau curong (bahasa Toba), mahseer, atau kelah (Malaysia). Nama "semah" populer dipakai di Sumatera bagian tengah hingga ke selatan.

Bagi sebagian orang, ikan semah disebut "ikan dewa" atau "ikan raja". Disebut "ikan dewa" karena di beberapa daerah di pulau jawa, ikan semah dikeramatkan dan tidak boleh dikonsumsi, tapi di beberapa wilayah di Indonesia lain seperti Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, ikan Semah merupakan bahan pangan kelas tinggi layaknya makanan seorang raja, tidak heran ikan semah disebut dengan "ikan raja". Perburuan ikan Semah untuk konsumsi di Kalimantan Barat mengakibatkan populasi ikan tersebut menurun. Di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (tempat saya tinggal saat ini), ikan Semah sudah sangat langka. Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), penggunaan racun ikan dan setrum merupakan faktor-faktor paling utama penyebab kelangkaan beberapa endemik air tawar di Kabupaten Bengkayang, termasuk ikan Semah. Bukti dari semakin berkurangnya populasi ikan Semah yaitu ikan ini semakin jarang kita lihat dan ukuran tangkapan semakin kecil, sementara di lain pihak, tidak ada tindak lanjut dan dukungan dari Pemerintah Daerah dalam hal pelestarian endemik air tawar yang sudah sangat berkurang. Ancorr!

0 comments:

Post a Comment