Tuesday, October 22, 2013

Sensasi memancing Tengadak dengan joran tegeg

Joran tegeg adalah salah satu joran pancing yang biasanya lebih sering digunakan untuk memancing di air tawar. Pada umumnya joran jenis ini memiliki panjang antara 2,5m hingga 6m, sehingga cukup panjang dan nyaman ketika digunakan untuk memancing. bagi beberapa pemancing disini, tegeg biasa digunakan untuk memancing ikan Kebalis dan anak ikan Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii), salah satu jenis ikan sungai yang umumnya berukuran tiga jari orang dewasa (ikan ini biasa diukur dengan menggunakan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis yang disatukan). Saya pribadi sebenarnya tidak begitu tertarik untuk memancing dengan menggunakan joran ini, namun saya pikir tidak ada salahnya untuk mencoba. Berbekal sebuah tegeg berukuran 2.4m, senar mono 10lbs, timah pancing kecil berukuran bulat, dan sebuah pelampung busa buatan sendiri, saya pun mulai merakit "senjata".

Selain daripada joran tegeg, hal lain yang menentukan kesuksesan memancing ikan tengadak adalah umpan. Umpan yang biasa dipakai untuk memancing ikan tengadak berukuran kecil adalah racikan kacang tanah dan nasi putih. Kacang tanah yang digoreng dengan menggunakan pasir harus sudah dipisahkan dari kulit ari nya, di-uleg hingga halus dan mengeluarkan minyak, kemudian dicampur dengan nasi putih. Minyak dari kacang tanah inilah yang menjadi daya tarik anak ikan tengadak, sedangkan nasi putih hanya sebagai perekat saja. Selain racikan kacang tanah dan nasi, umpan lain yang sering digunakan adalah potongan tempe berukuran kecil berbentuk kubus, udang kolam yang berukuran kecil (rebon), dan ulat pisang. Setelah semuanya lengkap, saya mulai menimbang-nimbang spot mana yang akan saya pancing.

Tidak jauh dari tempat tinggal saya, ada sebuah sungai yang biasa dikunjungi oleh para pengguna pancing tegeg. Lima menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor, dan kurang lebih 2 menit jalan kaki menyusuri hutan, kepercayaan diri saya semakin bertambah ketika sayup-sayup terdengar suara gemercik air sungai. Sesampainya di pinggir sungai, saya segera menarik semua ruas joran tegeg keluar, memasang umpan di mata kail yang berukuran kecil, dan mulai memancing.

Dua puluh menit berlalu tanpa satupun sentakan ikan, sementara umpan yang saya gunakan sudah beberapa kali diganti. Melihat kondisi air yang berarus agak deras, sugesti saya mengatakan bahwa ada ikan disitu. Sabar, adalah kunci dalam memancing dengan teknik ini. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya pelampung tenggelam. Spontan, joran saya sentak sedikit untuk membuat mata kail tertancap lebih dalam, tarikan anak ikan tengadak begitu sensasional saya rasakan, meskipun tidak berlangsung lama.

Satu ekor anak ikan tengadak berhasil saya daratkan, meskipun berukuran kecil, tarikannya sangat luar biasa di arus deras, apalagi dengan menggunakan joran tegeg yang berujung lentur. Dua jam telah berlalu, meskipun hanya 2 ekor yang berhasil didaratkan, tapi sensasi tarikan yang saya rasakan sangat luar biasa.

Thursday, October 10, 2013

Kesehatan Ekosistem Laut Dunia Kian Memburuk

Lautan kian menghangat karena perubahan iklim, menderita polusi, dan penangkapan ikan berlebih (overfishing).

Kesehatan ekosistem laut di dunia semakin memburuk bahkan lebih cepat dari yang diduga sebelumnya. Sebuah ulasan dari International Programme on the State of the Ocean (IPSO) memperingatkan bahwa lautan kini berhadapan dengan berbagai jenis ancaman. Lautan kian menghangat karena perubahan iklim, menderita polusi, dan penangkapan ikan berlebih (overfishing). Selain itu, sifat basa air laut juga kian terkikis karena terus menyerap karbondioksida.

Laporan itu mengatakan: "Kita selalu memanfaatkan laut apa adanya. [Padahal] Laut telah melindungi kita dari dampak terburuk percepatan perubahan iklim dengan menyerap kelebihan karbondioksida dari atmosfer." "Sementara peningkatan suhu bumi mungkin mengalami perlambatan, laut terus menghangat. Untuk sebagian besar, bagaimanapun, masyarakat dan pembuat kebijakan gagal untuk mengenali - atau memilih untuk mengabaikan - parahnya situasi ini."

Laporan ini juga mengatakan jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu kepunahan massal yang pernah menimpa lautan di masa lalu. Terumbu karang, misalnya, kini harus bertahan pada suhu laut yang lebih tinggi dan efek pengasaman. Sementara di lain sisi, dia juga dilemahkan oleh praktek-praktek buruk penangkapan ikan, polusi, endapan, dan ganggang beracun.

Tindakan pencegahan

IPSO, yang didanai oleh yayasan amal, mempublikasikan lima makalah berdasarkan lokakarya tahun 2011 dan 2012. Laporan tersebut menyerukan kepada para pemerintahan di dunia untuk menghentikan peningkatan CO2 pada 450ppm. Lebih tinggi dari itu, mereka mengatakan, akan menyebabkan pengasaman besar karena sebagian besar karbondioksida diserap ke laut. Mereka mendesak untuk dibuatnya manajemen perikanan yang lebih terfokus, dan penyusunan daftar prioritas untuk mengatasi pencemaran laut oleh bahan kimia. Mereka ingin pemerintah untuk menegosiasikan kesepakatan untuk perikanan yang berkelanjutan di lautan yang diawasi oleh sebuah lembaga pengawas global.

Profesor Dan Laffoley dari IUCN mengatakan: "Apa yang tertulis dalam laporan terbaru ini jelas menunjukan bahwa: penundaan tindakan [pencegahan] akan meningkatkan biaya di masa depan dan menyebabkan kerugian yang lebih besar yang tidak bisa dibalikan lagi."

"Laporan iklim PBB menegaskan bahwa laut tengah menanggung beban perubahan yang disebabkan oleh manusia. Temuan ini memberi kita alasan lebih untuk waspada -tetapi ini bisa juga digunakan untuk landasan rencana ke depan. Kita harus menggunakannya."

(Sumber: bbc.co.uk/indonesia seperti dikutip oleh National Geographic Indonesia)