Monday, November 11, 2013

SAAT MUSIM PENGHUJAN TIBA

Perasaan was-was melanda pikiran saya siang itu, "apakah hujan akan segera berhenti?". Pertanyaan itu muncul dalam pikiran saya karena sore harinya saya berencana untuk menjajal spot yang baru saya temukan kemarin. Spot yang dimaksud memang tidak terlalu jauh dari kediaman saya, namun apabila kondisinya hujan lebat seperti ini, terasa begitu jauh. Beberapa jam saya menunggu, masih berharap hujan akan segera reda, tetapi pada kenyataannya, tidak ada tanda-tanda hujan akan segera reda, apalagi berhenti. Akhirnya niat untuk menjajal spot baru saya batalkan, peralatan pancing saya letakkan kembali pada tempatnya, "masih ada hari esok" saya bergumam dalam hati, dan aktivitas sore itu saya lakukan dengan menulis artikel ini.
Pada penghujung tahun seperti sekarang ini, hujan memang sedikit mengganggu aktivitas para pemancing, tidak terkecuali pemancing dasaran atau pemancing dengan teknik casting. Peningkatan curah hujan menyebabkan debit air sungai/danau/kolam juga meningkat. Meningkatnya debit air sungai menyebabkan arus menjadi deras, dan warna air menjadi keruh. Keruhnya warna air disebabkan aliran air yang deras dan membawa endapan lumpur dari hulu. Selain itu, penyebab sungai menjadi keruh saat musim hujan adalah karena pepohonan disepanjang aliran sungai sudah mulai jarang, sehingga saat air hujan menyentuh tanah secara langsung, membawa tanah dan ranting-ranting pohon yang berserakan di bebukitan menuju sungai, akhirnya sungainya keruh dan mudah banjir. Kondisi air yang banjir dan keruh tentu saja bukan kondisi yang pas untuk mancing, Mengapa demikian? Karena kekeruhan air mempengaruhi daya ikat air terhadap oksigen, hal tersebut menyebabkan ikan kekurangan oksigen, batas pandang ikan berkurang, dan tertutupnya insang oleh partikel lumpur, dengan demikian nafsu makan ikan juga menjadi berkurang.
Mengutip penjelasan seorang angler di sebuah forum mancing, pada spot sungai dan danau/waduk, perubahan musim mempunyai pengaruh yg signifikan terhadap perilaku ikan, terutama pola makannya. Hal yg paling mendasar adalah faktor temperatur (suhu) air, karena ikan cendrung akan beradaptasi dengan lingkungannya. Untuk musim penghujan disaat debit air meningkat kadar oksigen lebih terkonsentrasi dipermukaan air dan ikan akan lebih leluasa mencari makan untuk pertumbuhannya. Penyebarannya juga akan meluas meliputi daerah-daerah baru yang tergenang air, sehingga ikan lebih mudah mendapatkan makanan. Disaat seperti ini pemancing harus jeli memilih spot yg tepat, dan menurut kebiasaan ikan akan lebih terkonsentrasi pada daerah pinggiran atau yg lebih dangkal.
Berbeda pada saat kemarau, temperatur air dipermukaan akan meningkat menyebabkan berkurangnya kadar oksigen, dan ikan akan lebih banyak berada di tengah antara dasar sungai/danau dan permukaannya. Pada saat seperti ini ikan juga lebih banyak berada dibawah persembunyiannya seperti rumput atau batang-batang pohon yg jatuh ke air. Ini akan sedikit berbeda pada sungai yang mengalir, karena biasanya kondisi air tetap terjaga, hanya debitnya saja yg berkurang. Manfaat dari berkurangnya debit air bagi pemancing adalah ikan akan terkonsentrasi pada suatu kawasan yg lebih dalam. Dan ikan pun akan tetap agresif makannya untuk bertahan hidup.
Kesimpulannya, kualitas air mempengaruhi nafsu makan ikan. Pada saat banjir dan kondisi air keruh, suhu air juga berubah. Kondisi seperti ini membuat ikan -mungkin- berpindah tempat (migrasi) karena mencari tempat yg kondisinya lebih sesuai dengan daya tahan tubuhnya karena pengaruh suhu air tersebut. Kalo dipikir-pikir, kurang pas juga mancing ikan sementara ikan lagi ga nafsu makan. Jadi, tidak ada salahnya mengurangi aktivitas memancing pada musim penghujan, sambil menunggu kondisi air kembali normal dan migrasi (penyebaran) ikan mencari tempat tinggal baru. Lagipula, saya pikir ga ada untungnya juga mancing sambil diguyur hujan, alih-alih dapat ikan, bisa jadi kita malah kena demam, so...act wisely.

Tuesday, October 22, 2013

Sensasi memancing Tengadak dengan joran tegeg

Joran tegeg adalah salah satu joran pancing yang biasanya lebih sering digunakan untuk memancing di air tawar. Pada umumnya joran jenis ini memiliki panjang antara 2,5m hingga 6m, sehingga cukup panjang dan nyaman ketika digunakan untuk memancing. bagi beberapa pemancing disini, tegeg biasa digunakan untuk memancing ikan Kebalis dan anak ikan Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii), salah satu jenis ikan sungai yang umumnya berukuran tiga jari orang dewasa (ikan ini biasa diukur dengan menggunakan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis yang disatukan). Saya pribadi sebenarnya tidak begitu tertarik untuk memancing dengan menggunakan joran ini, namun saya pikir tidak ada salahnya untuk mencoba. Berbekal sebuah tegeg berukuran 2.4m, senar mono 10lbs, timah pancing kecil berukuran bulat, dan sebuah pelampung busa buatan sendiri, saya pun mulai merakit "senjata".

Selain daripada joran tegeg, hal lain yang menentukan kesuksesan memancing ikan tengadak adalah umpan. Umpan yang biasa dipakai untuk memancing ikan tengadak berukuran kecil adalah racikan kacang tanah dan nasi putih. Kacang tanah yang digoreng dengan menggunakan pasir harus sudah dipisahkan dari kulit ari nya, di-uleg hingga halus dan mengeluarkan minyak, kemudian dicampur dengan nasi putih. Minyak dari kacang tanah inilah yang menjadi daya tarik anak ikan tengadak, sedangkan nasi putih hanya sebagai perekat saja. Selain racikan kacang tanah dan nasi, umpan lain yang sering digunakan adalah potongan tempe berukuran kecil berbentuk kubus, udang kolam yang berukuran kecil (rebon), dan ulat pisang. Setelah semuanya lengkap, saya mulai menimbang-nimbang spot mana yang akan saya pancing.

Tidak jauh dari tempat tinggal saya, ada sebuah sungai yang biasa dikunjungi oleh para pengguna pancing tegeg. Lima menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor, dan kurang lebih 2 menit jalan kaki menyusuri hutan, kepercayaan diri saya semakin bertambah ketika sayup-sayup terdengar suara gemercik air sungai. Sesampainya di pinggir sungai, saya segera menarik semua ruas joran tegeg keluar, memasang umpan di mata kail yang berukuran kecil, dan mulai memancing.

Dua puluh menit berlalu tanpa satupun sentakan ikan, sementara umpan yang saya gunakan sudah beberapa kali diganti. Melihat kondisi air yang berarus agak deras, sugesti saya mengatakan bahwa ada ikan disitu. Sabar, adalah kunci dalam memancing dengan teknik ini. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya pelampung tenggelam. Spontan, joran saya sentak sedikit untuk membuat mata kail tertancap lebih dalam, tarikan anak ikan tengadak begitu sensasional saya rasakan, meskipun tidak berlangsung lama.

Satu ekor anak ikan tengadak berhasil saya daratkan, meskipun berukuran kecil, tarikannya sangat luar biasa di arus deras, apalagi dengan menggunakan joran tegeg yang berujung lentur. Dua jam telah berlalu, meskipun hanya 2 ekor yang berhasil didaratkan, tapi sensasi tarikan yang saya rasakan sangat luar biasa.

Thursday, October 10, 2013

Kesehatan Ekosistem Laut Dunia Kian Memburuk

Lautan kian menghangat karena perubahan iklim, menderita polusi, dan penangkapan ikan berlebih (overfishing).

Kesehatan ekosistem laut di dunia semakin memburuk bahkan lebih cepat dari yang diduga sebelumnya. Sebuah ulasan dari International Programme on the State of the Ocean (IPSO) memperingatkan bahwa lautan kini berhadapan dengan berbagai jenis ancaman. Lautan kian menghangat karena perubahan iklim, menderita polusi, dan penangkapan ikan berlebih (overfishing). Selain itu, sifat basa air laut juga kian terkikis karena terus menyerap karbondioksida.

Laporan itu mengatakan: "Kita selalu memanfaatkan laut apa adanya. [Padahal] Laut telah melindungi kita dari dampak terburuk percepatan perubahan iklim dengan menyerap kelebihan karbondioksida dari atmosfer." "Sementara peningkatan suhu bumi mungkin mengalami perlambatan, laut terus menghangat. Untuk sebagian besar, bagaimanapun, masyarakat dan pembuat kebijakan gagal untuk mengenali - atau memilih untuk mengabaikan - parahnya situasi ini."

Laporan ini juga mengatakan jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu kepunahan massal yang pernah menimpa lautan di masa lalu. Terumbu karang, misalnya, kini harus bertahan pada suhu laut yang lebih tinggi dan efek pengasaman. Sementara di lain sisi, dia juga dilemahkan oleh praktek-praktek buruk penangkapan ikan, polusi, endapan, dan ganggang beracun.

Tindakan pencegahan

IPSO, yang didanai oleh yayasan amal, mempublikasikan lima makalah berdasarkan lokakarya tahun 2011 dan 2012. Laporan tersebut menyerukan kepada para pemerintahan di dunia untuk menghentikan peningkatan CO2 pada 450ppm. Lebih tinggi dari itu, mereka mengatakan, akan menyebabkan pengasaman besar karena sebagian besar karbondioksida diserap ke laut. Mereka mendesak untuk dibuatnya manajemen perikanan yang lebih terfokus, dan penyusunan daftar prioritas untuk mengatasi pencemaran laut oleh bahan kimia. Mereka ingin pemerintah untuk menegosiasikan kesepakatan untuk perikanan yang berkelanjutan di lautan yang diawasi oleh sebuah lembaga pengawas global.

Profesor Dan Laffoley dari IUCN mengatakan: "Apa yang tertulis dalam laporan terbaru ini jelas menunjukan bahwa: penundaan tindakan [pencegahan] akan meningkatkan biaya di masa depan dan menyebabkan kerugian yang lebih besar yang tidak bisa dibalikan lagi."

"Laporan iklim PBB menegaskan bahwa laut tengah menanggung beban perubahan yang disebabkan oleh manusia. Temuan ini memberi kita alasan lebih untuk waspada -tetapi ini bisa juga digunakan untuk landasan rencana ke depan. Kita harus menggunakannya."

(Sumber: bbc.co.uk/indonesia seperti dikutip oleh National Geographic Indonesia)

Sunday, September 29, 2013

Fishing, technique or luck?

Sempat terlintas di benak saya mengenai sebuah pernyataan dari seorang teman: "Mancing itu tergantung muka (wajah)". Well, mungkin terdengar sedikit aneh, kenapa juga harus tergantung muka? Sebenernya, yang dimaksud dengan "tergantung muka" itu adalah luck atau keberuntungan.

Jadi ceritanya begini, suatu sore di sebuah tempat bernama Menyaok, saya dan beberapa rekan angler sedang casting gabus. Saya dan seorang rekan berinisial "A" bisa dikatakan memiliki tackle yang lumayan lengkap buat casting ikan jenis snakehead ini. First cast, no strike...second cast, no strike...third cast, again, no strike...begitu seterusnya, hingga beberapa menit kita cast dengan backhand style, bull whip style, koprol style...ga satupun gabus yang berminat menghantam lure. lure yang dipake juga bermacam-macam, mulai dari top water lure, minnow, crank, hard frog, dll. Rasa putus asa mulai menggerogoti semangat yang tadinya berjudul "45", hingga memunculkan sebuah pertanyaan, "koq ga ada gabus di tempat seindah dan seelok ini?". Rasa Penasaran kembali membuat semangat kita berkobar, pokoknya hari ini harus ada hook up. Yess...saya ingin berteriak "SUTREEEEEKKKK!". Namun sang gabus masih aja ga berminat menghantam lure. Akhirnya kita berdua beristirahat sejenak sambil menikmati sebatang rokok dan sebotol minuman mineral.

Tiba-tiba saja dari arah belakang, seorang rekan angler lain nyelonong masuk dan ambil posisi siap lempar, "tergantung muka!" tegasnya dengan gaya sedikit nyeleneh. Berbekal rod yang bisa dibilang standar, dan lure murmer (murah meriah), cast pertama dilakukan tanpa ada sentuhan sama sekali. Selanjutnya cast kedua, kali ini di area sepanjang pinggiran danau tempat dimana tadinya saya dan rekan berinisial "A" udah beberapa kali cast tanpa strike. Tanpa diduga, ada sambaran gabus, cuma tidak mengenai hook. Cast ketiga dilakukan di tempat yang sama, dan...strike!...namun hanya beberapa detik fight, gabus pun lepas, yaaa...boncos! Hal tersebut menjadi bahan pembicaraan hingga malam hari ketika kita nongkrong bareng di sebuah warung kopi.

Apabila diperhatikan alur cerita di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa selain teknik dan skill, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah luck atau keberuntungan. 3 (tiga) jam yang lalu saya menulis status di Facebook "Fishing is about technique and more important is luck, so...jangan malu kalo punya tackle murmer." Dalam hal memancing, pengalaman, skill/tehnik, dan luck sangat mempengaruhi hasil pancingan. Ketika pada suatu saat mancing kita sudah mempraktekkan pengalaman dan skill serta teknik yang ampuh dalam hal casting namun tidak menghasilkan strike, maka jurus pamungkas terakhir adalah "berharap dewi fortuna mengulurkan tangannya memberi bantuan", maaf, bukan jurus pamungkas, tetapi mantra pamungkas.

Bersambung...

Monday, April 22, 2013

Mahseer a.k.a Semah

Beberapa waktu lalu, salah seorang rekan lama yang sekarang berdomisili di Putussibau-Kalimantan Barat menunjukkan foto hasil pancingannya. Foto tersebut sungguh luar biasa, seekor semah yang berbobot sekitar 12 kiloan. Tidak sedikit foto-foto hasil pancingannya yang sudah di-upload, dan banyak rekan-rekan sesama pemancing yang memberikan apresiasi, tidak sedikit pula yang berniat untuk berkunjung karena ingin merasakan sensasi strike dari ikan air jernih tersebut.

Terus terang saja, ada sedikit kecemburuan dalam hati saya setiap kali melihat hasil pancingannya. Putussibau memang terkenal kaya akan ikan air tawar, beragam jenis ikan air tawar dapat ditemui di daerah ini. Kalau boleh membandingkan, perairan air tawar di Kabupaten Bengkayang tidak berbeda dengan air tawar di Putussibau. Beberapa rekan pemancing di Bengkayang yang sudah "berumur" seringkali bercerita mengenai kondisi aliran sungai di Bengkayang pada era 70-80an. Sebagai salah satu contoh adalah Sungai Sebalo yang membelah kota Bengkayang. Sehari setelah hujan deras, debit air sungai sebalo spontan naik, kala itulah masing-masing pencari ikan akan mulai pasang strategi pengintaian terhadap ikan-ikan Semah yang sedang "migrasi" mencari tempat baru. menurut cerita, jumlah dan ukuran ikan semah yang "migrasi" tersebut tidak sedikit dan rata-rata berukuran monster. Ukuran monster yang saya maksud adalah 3 kilo ke atas, dan sudah dikonfirmasi oleh beberapa rekan pemancing lain. 3kg up bukanlah ukuran yang kecil, untuk menangkap ikan seukuran itu diperlukan sebuah tombak (serampang) atau jala yang kuat, kalau tidak, serampang tidak dapat menembus sisik ikan atau jala akan jebol oleh perlawanan ikan.

Ikan Paklin(?) atau ikan Semah merupakan endemik air tawar, lebih spesifik lagi ikan air tawar yang belum tercemar. Ikan Semah masuk dalam keluarga Cyprinidae. Tetapi penggunaan nama Mahseer hanya dibatasi pada genus Tor. Penyebaran ikan ini meliputi Malaysia, Indonesia, mulai dari Asia sampai ke Iran, termasuk semenanjung India. Nama lain ikan ini adalah tambra/tombro (Jawa), sapan (Kalimantan), ikan batak atau curong (bahasa Toba), mahseer, atau kelah (Malaysia). Nama "semah" populer dipakai di Sumatera bagian tengah hingga ke selatan.

Bagi sebagian orang, ikan semah disebut "ikan dewa" atau "ikan raja". Disebut "ikan dewa" karena di beberapa daerah di pulau jawa, ikan semah dikeramatkan dan tidak boleh dikonsumsi, tapi di beberapa wilayah di Indonesia lain seperti Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, ikan Semah merupakan bahan pangan kelas tinggi layaknya makanan seorang raja, tidak heran ikan semah disebut dengan "ikan raja". Perburuan ikan Semah untuk konsumsi di Kalimantan Barat mengakibatkan populasi ikan tersebut menurun. Di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (tempat saya tinggal saat ini), ikan Semah sudah sangat langka. Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), penggunaan racun ikan dan setrum merupakan faktor-faktor paling utama penyebab kelangkaan beberapa endemik air tawar di Kabupaten Bengkayang, termasuk ikan Semah. Bukti dari semakin berkurangnya populasi ikan Semah yaitu ikan ini semakin jarang kita lihat dan ukuran tangkapan semakin kecil, sementara di lain pihak, tidak ada tindak lanjut dan dukungan dari Pemerintah Daerah dalam hal pelestarian endemik air tawar yang sudah sangat berkurang. Ancorr!